mari meraih mimpi

mari kawan dengan membuka blog ni maka sesungguhnya kawan2 telah selangkah lebih maju guna meraih mimpi kawan-kaawan karena di sini kalian akan terinspirasi untuk meraih mimpi kalian lewat tulisan-tilisan saya yang tentunya akan mengajak kawan-kawan sekalian meraih mimpi....!!!!

apakah yang akan kalian lakukan dengan mimpi kalian???

Kamis, 27 Mei 2010

uduni astajib lakum

"uduni astajib lakum" begitulah firman allah dalam al-quran yang karim atas semua isinya dan telah terbukti terjaga keasliannya.
firman diatas dapat diartikan "berdoalah maka aku(Allah) akan mengijabahinya". maka segala sesuatu pastilah harus selalu di barengi doa kepada tuhan yang maha esa.
dalam hal ini aku kan mengangkat tentang hakikat kesuksesa yang di barengi dengan doa kepada Allah.....
semua insan pasti ingin sukses dalam segala sesuatunya, pasti ingin sukses dalam hajjatnya, maka dari itu untuk menuju kesuksesan tersebut haruslah terlebih dahulu mengerti akan hakikat kesuksesan itu sendiri...
kesuksesan adalah sesuatu yang telah di capai oleh seseorang akan usahanya sendiri dan dari usaha itu menimbulkan sebuah kepuasan tersendiri yang didapat dari usahanya itu!!!!!!

Minggu, 16 Mei 2010

bangsaku merdeka

bangsaku adalah bangsa yang merdeka sudah lebih dari 60 tahun bangsaku merdeka. namun mengapa bangsa ini tak pernag dewasa seperti apa yang di cita-citakan oleh pahlawannya. dahulu para pemuda sangatlah berjasa. sumpah pemuda seakan menjadi ikrar sejati. 100 tahun sudah ikrar itu berusia namun kenapa ikrar itu seakan hilang sama seperti hilangnya jati diri bangsa ini!!
merdeka...merdeka,,,,...merdeka....itulah yang lebih banyak aku dengar dari cerita masa lalu perjuangan bangsa ini bangsa yang memiliki segala ragama kebudayaan yang indah...persatuan dalam sebuah perbedaan. mozaik yang timbul dari kepribadian rakyatnya!
setetes keringat ini telah terjatuh dalam setiap usaha dari badan yang tak berdaya ini. setetes keringat ini pula lambang dari kegigihan sebuah bangsa. namun kini bukanlah keringat yang mengucur dalam diri bangsa ini melainkan hanyalah air mata. air mata tak berguna yang hanya akan hilang dalm usapan sapu tangan negara lain!!
sampai kapankah bangsa ini akan menjadi bangsa kawulo??/
bangsa yang hanya mengembik di bawah iba bangsa lain!
boleh kita bangga akan cerita masa lalu dan ciri yang telah terpatri pada bangsa ini sebagai bangsa yang ramah dan sopan. namun jangan merubah semua ciri itu menjadi ciri seorang budak yang hanya menurut tanpa harus tahu keperibadian bangsa ini sendiri tanpa tahu apa makna dari kesopanan dan keramahan yang selama ini di tunjukkan oleh bangsa ini.
kemerdekaan bukanlah sesuatu yang amoral. namun merdeka berarti cita2 yang mulia yang harus di muliakan juga oleh setiap insan dalam bangsa ini.
bangsaku merdeka...bangsaku merdeka...bangsaku merdeka...hanya itu yang dapat membuat haus dan dahaga hati ini lega....!!!!

"orang yang baik harus sudah berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi perbuatan" pramoedya ananta toer...

Sabtu, 08 Mei 2010

cogito ergo sum

"hei achan", begitu panggil guruku padaku pagi ini, aku yang kali ini harus rela berjalan lagi lebih dari 3km untuk ke sekolahku dan untuk tetap melanjutkan proposal hidupku pun menoleh. ku lihat di seberang sana terlihat sosok tinggi dengan sedikit kerutan di wajahnya yang menunjukkan akan usianya yang memang tidak muda lagi, rambut yang berhias uban itu pun semakin jelas kulihat. dia adalah pak.chudlori guru yang di takuti dan sekaligus di segani oleh seluruh warga sekolahku termasuk aku. layaknya siswa yang lain aku pun lantas menjawab sapaannya terhadapku "tabik,ustadz. ada apa ustadz memanggil sahaya???" jawabku lirih dengan jantung sangat berdebar. "tidak aku hanya ingin bertanya padamu, apakah kamu siap masuk MBI ini..?" dengan nada yang sangat berwibawa beliau melontarkan pertanyaan padaku. aku pun merasa sangat terbebani akan pertanyaan itu seakan seluruh jiwaku tercabut da hanya ingin menjawab pertanyaan itu, sungguh pertanyaan yang mewakili perjalananku di sekolah yang bernama MBI ini. wajar kalu aku merasa terbebani akan pertanyaan ini karena hari ini adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di sebuah sekolah yang bernama MBi ini.
MBI begitulah yang aku tahu tentang sekolah ini, sekolah yang terletak di atas gunung dengan akses yang sangata sulit untuk menjangkaunya, namun sekolah ini hampir mewakili seluruh mimpi muridnya untuk dapat terwujud.mimpi yang datang dengan cita2 luhur yang terbentuk dalam kesadaran sepenuhnya, juga dalam tanggung jawab yang amat sangat besar.
tak yahu kenapa aku kok bisa tertarik bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama pada sekolah ini?? sungguh 2 malaikat penjaga dalam dirikupun tak berontak. mungkin inilah yang dinamakan sebuah jalan kesuksesan yang penuh keridhoan.
...........................
Hari ini, sholat malam pertamaku di bumi MBI ini, dan seperti yang tertera dalam brosur yang pernah aku dapat mengenai sekolah ini sebelum aku masuk kesini yenyang jadwal dan kegiatan sehari-hari yang harus aku lakukan apabila menjadi siswa MBI nanti, dan ternyata subuh ini aku melakukannya. Tak terbesit dalam bayanganju sebelumnya kalu aku akan melakuakn satu kegiatan yang mungkun hampir tak pernah aku melakukannya. Sungguh sulit membayangkan bagaimana aku harus melakukan kegiatan seperti ini setiap hari dan tentunya semua itu harus aku lakukan sendiri tanpa paksaan dari siapapun, karena memang itulah kewajibanku dan setiap individu yang tinggal di bumi MBI ini.
Aku terbangun setelah mendengar suara dari ustadzku yang ternyata sudah sedari tadi membangunkan aku dan kawan-kawanku yang lain di kamarku. Dan tanpa kusadari beliau telah berada di sampingku dan telah berkomat-kamit dalam bahsa arab “qumu,haya qumu,ayyuhattalamidz” yang baru-baru ini aku ketahui kalau arti dari kalimat arab itu adalah “bangun-bangun,ayo bangun hai sekalian murid”. Dan semenjak saat itu akupun sering mendengar kalimat itu setiap kali jam pada kamarku menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Seakan aku tak mau melewatkan rutinitas baru dalam kehidupanku ini akupun lantas beranjak dari tidurku dengan sedikit mengucek mata dan membenarkan baju dan sarungku yang kiranya sudah modol morot karena gerakan alamiahku sewaktu tidur. Namun dalam usaha diriku untuk sadar dan bangun 100 persen itu, tiba-tiba aku merasa mengalami de javu yang kalu aku rasakan lebih cenderung akan ingatanku pada kata-kata ibuku sebelum aku berangkat untuk bersekolah di MBI ini. Ya, ibu yang selalu penuh perhatian terhadapku, ibu yang benar-benar air susunya telah menumbuhkan daging dalam tubuhku sehingga aku dapat tumbuh dewasa. Pada waktu itu ibuku memanggil aku dengan wajah merah berbinar-binar gembira seakan senang melihat anak sulungnya yang akan mencari ilmu di jalan tuhannya dan kelak akan pulang dengan segala manfaat yang di dapatnya dalam mencari ilmu di jalan tuhannya itu.
Layaknya seorang hamba yang sangat taat pada tuannya aku pun lantas memenuhi panggilan ibuku itu. Terlihat wajhnya yng merah berbinar itu di atas pelupuk mataku. “nggeh bu; wonten punopo kok nimbali kawula” kataku dalam bahasa jawa yang halus, yang telah di ajarkan oleh ibuku semenjak aku kecil, bahsa nenek moyangku yang harus aku jaga dalam masa sekarang dan masa mendatang, bahasa yang mewakili sebagian besar cerminan bangsaku. Ya asal kalian tahu, bahwa bahasa yang telah digunakan nenek moyangku berabad-abad ini telah mampu merubah bangsa ini. Sebelum para pemimpin bangsa ini menegenal dan menggunakan bahasa Inggris,Belanda,Jerman, dan lain sebagainya pada saar jaman penjajahan dahulu, nenek moyangku telah terlebih dahulu menggunakan bahasa jawa untuk menjalin hubungan kekerajaan anatara satu kerajaan dengan kerajaan yang lain. Maka kalau boleh di simpulkan bahasa nenek moyangku ini juga bahasa politik masyarakat negeri ini jaman dahulu yang timbul dari hati. Lepas dari semua itu akupun mendengar sayup jawaban dari ibuku yang amat sangat halus dalam jawa pula”meriki nak, ibu bade ngomong kale sampean” begitulah jawaban ibuku yang tak kalah halus dengan ucapanku sebelumnya, walaupun sebagai ibu, ibuku berhak menjawabi dengan bahasa jawa kasar atau ngoko namun lain dengan ibuku yang selalu berusaha berlaku sopan kepada siapapun termasuk juga anak-anaknya, mem\ang ibu yang subgguh sangat penyayang.
(agaknya akan ku tuliskan percakapanku dengan ibuku ini dalam bahasa Indonesia saja agar kalian lebih mengerti apa yang aku maksudkan).
Setelah jawaban dari ibuku tadi, ibuku pun meneruskan kalimatnya, “begini nak, ananda ini kan mau menemban sebuah misi besar untuk mencari ilmu di jalan tuhan dan tentunya itu adalah sebuah pekerjaan mulia, yang ibu akan sangat bangga apabila dalam pelaksanaannya ananda akan bisa melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan sungguh-sunggguh”begitu kiranya kalimat dari ibuku yang membuat jantung ini berdebar sangat kencang karena mendengar sebuah kalimat yang sangat tulus dari hati seorang ibu yang menginginkan kesuksesan anak-anaknya.
ananda akan senantiasa bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab dalam mengemban tugas nan mulia ini, ibu. Namun apalah arti dari semua itu tanpa keridhoan ibu semata. Karena akan menjadi sia-sia semua yang ananda lakukan walaupun itu di jlan Allah. Karena ridho ibu adalah keridhoan Allah pula.”
Jawabku lirih dengan air mata yang semakin menumpuk di pelupuk mata ini.
betul apa yang kau katakans ananda. Tapi tak ada serong ibu di dunia ini yang akan rela tak meridhoi anaknya dalam hal kebaikan ini. Begitu pula ibumu ini, ibu akan senantiasa meridhoi dan mendoakan akan kesusesanmu kelak. Namun perlu ananda ingat bahwa kesuksesan itu hanya ananda yang dapat wujudkan sendiri, dan dengan doa dari ananda sendiri pada Allah S.W.T maka senantiasa Allah akan melimpahkan segalah rahmat dan hidayahnya kepada ananda selagi ananda masi di jalannya. Dan satu lagi janganlah ananda mengingkari peraturan yang telah di buat oleh ustadz maupun ustadzah di MBI sana karena itu akan mengurangi kadar manfaat ilmu yang akan di dapatkan oleh ananda”
Begitu kiranya kalimat terakhir dari ibuku yang tanpa kurasa telah di barengi oleh tetsan air mata yang jatuh dari pelupuk mataku yang mungkin sudah tak kuasa lagi menahan begitu banyaknya air mata yang menumpuk sedari tadi.
De javu-ya de javu itu kini telah melambung tinggi di pikiran dan otakku. De javu itu pun membantu syaraf sadarku untuk bekerja seperti normal kembali. Dan kembali terdengar suara ustadzku yang terus me\manggil murid-muridnya agar segera bangun dan sesegera mungkin berabgkat ke mushola untuk melakukan kegiatan rutin, maksudku kegiatan yang akan mereka lakukan setiap hari nantinya karena mereka telah menjadi siswa-siswi MBI.
Suara gemuruh di kamar semakin terdengar setelah jam dinding pada kamarku menunjukkan pukul 03.30 semua penghuni kamarku sibuk dengan dirinya masing-masing dan saling mempersiapkan diri untuk segera berangkat menjalankan sholat malam. Tak henti-hentinya kran pada tempat wudhi di kamarku mengeluarkan bunyi yang mengisi kesibukan di kamarku malam itu. Suara gmericik air yang di gunakan berwudhu, suara teman-teman yang menggigil karena kedinginan kini telah berkurang seiring dengan berkurangnya juga jumlah penghuni kamarku yang sudah banyak berangkat sholat malam. Akupun tak mau kalah dengan gesitnya aku bangun dan menuju ke kran tempat wudhu berada, setelah kurang lebih mngantri sekitar lima menit di belakang dua temanku yansg berwudhu akupun mulai membasuh mukaku dengan berniat untuk berwudhu seperti halnya tata car yang di benarkan oleh islam dalam hal berwudhu, selanjutnya kuteruskan dengan membasuh kedua tanganku diringi gemeretak gigiku karena rasa menggigil dari dinginnya air pacet subuh itu. Rambut, ke dua telinga dan kedua kakipun tak luput aku basuh dengan tertib dan benar.
Kubuka lemari bajuku dan kuambil satu setel baju busana muslim dan sarungnya yang akan aku gunkan sholat malam subuh ini.setelah berganti pakaian akupun tak lupa mengunci lemariku kembali demi keamanan atas lemariku. Kemanan memang sangat perlu di jaga karena dalm lemari itulah seluruh keperluan hajat hidupku di pondok di simpan, dan tentu apabila terjadi kehhilangan maka tidak akan mudah untuk menemukannya kembali oleh karena itu setiap individu di MBI wajib mempunyai sebuah kesadaran untuk menjaga barang-barangnya sendiri, karena setiap barang yang mereka miliki hanya mereka yang tahu akan kelangsungannya dan tidak ada seorangpun yang akan bertanggung jawab apabila terjadi kehilangan selain para pemilik barang tersebut. Itulah yang agaknya membuat aku sangat merasa wajib untuk menjaga barangku sendiri.
Sandal di depan asrama itu milikku, aku memakainya seperti yang seharysnya aku lakukan karena itu memang hakku. Aku berjalan di subuh yang sunyi itu dengan beberapa teman yang juga baru saja aku mengenalnya tadi sore sewaktu aku datang. Penerangan yang hanya dapat kami dapatkan dari lampu jalan setidaknya dapat membantuku untuk berjalan tanpa harus kuatir akan terjatuh karena tak kelihatan jalan. Aku bercakap dengan beberapa teman yang mulai merasa akrab itu untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa di pelupuk mata ini, dan untuk menghilangkan rasa dingin akan udara di pacet yang memang sangat dingin maklum daerah pacet berada di lereng gunung wulirang yang artinya di dataran tinggi.
Sani hizbul haq atau akrab di panggil sani, ia adalah salah satu teman yang berjalan bersamaku subuh ini dan ia juga baru aku kenal tadi sore, pria bertubuh kecil ini kira-kira memiliki tinggi badan sekitar 160 cm. dengan perawakan yang kecil itu dia terlihat tetap proporsional, dengan tinggi badan yang lebih sesuai dengan keimutan wajahnya yang lebih mirip anak SMP bukan seorang perawakan anak SMA sewajarnya. Menurut perbincangan yang kami lakuakan selama perjalanan dan kami saling bertukar pengalaman sekenannya akupun tahu bahwa dia juga sekota denganku yang berarti dia adalah anak Sidoarjo, namun berbeda kecamatan denganku. Tidak seperti sewajarnya anak seorang TNI AL pula dia tidak terlihat mempunyai kemampuan di bidang baris-berbaris seperti apa yang di miliki oleh sang ayah tentunya. Sejak perjalanan malam saat itu kamipun menjadi sangat akrab dan begitu akrab hingga lulus dari MBI.
Selain sani, subuh itu aku juga aku berjalan dengan Zidnil ula atau yang entah di ambil dari namanya yang bagian mana ternyata nama panggilannya adalah Danil. Putra Pulau Bidadari itu awalnya terlihat sangat angkuh namun itu hanya cover dari pribadinya yang sangat bersahabat dengan siapa saja. Menurut perbincangan kami juga, aku baru mengetahui bahwa perjalanan dari pulau Bawean tempat aslanya ke pacet lebih kurang 6 jam, yang kalu di jabarkan 4 jam perjalanan laut dengan kapal cepat dan 2 jam perjalanan darat dari gresik ke pacet.danil sangat terinspirasi oleh sang ayah yang bekerja sebagai pelaut dan berkeliling dunia, bahkan dalam perjalanan kami untuk sholat malam itu dia terus mengeluh-eluhkan keajaiban pekerjaan yahanya yang sebagai pelaut itu dan ia pun sangat bercita-cita untuk menggantikan ayahnya itu, meskipun akhir-akhir ini aku juga mengetahui kalau danil juga mempunyai sebuah cita-cita sebagai dokter dan ingin kuliah di fakultas kedokteran.
Dalam 10 menit kamipun sampai di musholla tempat aku harus melakukan sholat malam, mungkin 500 meter kami berjalan dari asramaku menuju ke musholla tempat aku harus melakukan sholat malam. Terdengar dari kejauhan suara sang imam yang juga kiaku yaitu kiai Asep yang sangat berwibawa kentara dari suaranya dan walaupun hari itu aku baru saja bersekolah di MBI namun aku sudah merasakan kewibawaan kiaku itu dari smangat suaranya dan akupun tak membayangkan bagaiamana displinnya kiai ini dan tak kenal lelah kiai ini dalam meng-imami sholat malam yang seharusnya ia lakukan setiap hari dan juga harus bangun lebih dulu dari pada semua muridnya. Kiai kelahiran cirebon ini memang mempunayi suatu ciri khas yaitu dari kelebihannya dalam me-manange pondoknya lebih baik dari kebanyakan kiai yang ada di Indonesia ini. Dengan kemampuan me-manage ini beliau mampu membuat sekolah dan pondok pesantrenya ini menjadi nomor satu di Indonesia. Dan bukan hanya itu di setiap usai sholat malam beliau memimpin pengajian yang tentunya juga bermanfaat untuk mengisi kekuatan spiritual atas setiap individu dari muridnya agar senantiasa tabah dan tak berpaling dari jalan tuhannnya.
2 rakaat sholat tasbih, yang di lakukan 6 kali salam telah aku lakukan dengan hati gemetar karena otakku di penuhi rasa iba akan kebesaran tuhanku lewat sholat hajjat yang aku lakukan. Tiap kali pergantian rakaat selalu di imbangi dengan suara semangat dari sang kiai asep,dimulai dari nada suara tinggi dalam bahasa arab hingga doa yang sangat bermakna untuk membuat ilmu setiap muridnya selalu bermanfaat. “Baqi salasah” begitu nada yang keluar dari lisan kiai asep ketika sholat hajjat menunjukkan bilangan salam yang ke 3, dan begitu seterusnya hingga hati ini merasa sangat senang ketika kiai asep mulai mengeluarkan kalimat arab “baqi marrah” yang kiranya itu adalah sebuah kalimat yang mempunyai arti “satu kali lagi” berarti satu kali salam lagi kita harus melakukan sholat hajjat pada subuh ini.
Suasana musholla terasa sangat pengap karena ukurannya yang tak sebanding dengan jumlah orang di dalamnya. Ya musholla yang kira-kira hanya mampu menampung 20 orang itu telah terisi lebih dari 30 orang dan semuanya melakukan kegiatan dan iotu pula yang memaksa tubuh setiap dari mereka mengeluarkan keringat yang pada akhirnya membuata udara di dalam musholla itu semakin pengap saja. Namun satu hal yang membuat aku tak jadi mengeluh karena hal yang sepele ini karena aku melihat sebuah semangat dari sang kiai ynag aku agung-agungkan itu, beliau tidak pernah merasa mengeluh akan keadaan musholla ini, malahan beliau selalu menjadi panutan yang baik bagi setiap muridnya karena beliau selalu datang terlebih dahulu daripada semua muridnya bahkan semua ustadz yang ada di MBI ini. Dan yang terpenting beliau tidak pernah absen dalam tugasnya yang sangta mulia sebagai imam dalam sholat malam hingga sholat subuh. Padahala baru-baru ini aku ketahui bahwa beliau selalu datang dari surabaya pada pukul 11 malam dan beliau langsung mengadakan bincang-bincang dengan pak chudlori mengenai perkembangan MBI. Seakana malaikat yang selalu melakuakan tugasnya beliaupun tak pernah lupa dana tak ingin meninggalkan tugasnya yang mulia itu.
Adzan subuh di musholla lain dekat MBI pun mulai sayup-sayup terdengar, namun aku masih larut dalam sujudku. Ya memang sujud yang aku baru tahu kalau setiap seusai melakuakan sholat hajjat semua murid MBI di haruskan melakukan sujud kepada tuhannya yang mana mereka akan menyerahkan segenap jiwa mereka agar lebih dekat kepada sang ilahi robbi.dalam sujudku itu aku pinta dengan segenap hati kepada illahi segala keinginan dan hajatku agar terkabul nantinya