by Ahsan Ridhoi on Saturday, August 6, 2011 at 9:55pm
Rintik hujan mulai berhenti, fikri pun mulai keluar dari tempatnya berteduh di bawah jembatan layang yang kiranya juga menjadi tempat berteduh para pengendara kendaraan bermotor yang sedang kehujanan. dengan bacaan basmallah fikri mulai menapakkan langkah kakinya kembali untuk menuju lampu merah di dekat jembatan layang tempat ia berteduh, di bawalah koran dagangannya di dekapnya di depan dadanya dengan erat, dan ia pun mulai berdiri kembali di sebelah lampu merah singgasananya untuk mengais rezeki dari hari-kehari sampai waktu yang tak di tentukan.
waktu menunjukan pukul 16:00, 2 jam sebelum waktu berbuka puasa, fikri yang notaband.nya lulusan pondok pesantren pun tetap berpuasa meskipun ia harus bekerja keras hari itu untuk menjual koran. ia harus menjual koran seperti ini semenjak ia di tinggal wafat oleh ayahnya pada 3 tahun yang lalu tepatnya ketika ia menginjak kelas 2 madrasah aliyah di pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. dan sontak sejak saat itu kehidupan fikripun berubah drastis 180 derajat iapun harus lulus terlebih dahulu dari pondoknya karena dia tak mampu lagi untuk membayar biaya pesantrennya dan dia pun mempunyai sebuah tanggung jawab lebih yaitu menghidupi ibunya yang juga sudah mulai sakiy-sakitan semnjak ditinggal mati oleh ayahnya dan juga ke-4 adiknya yang masih kecil-kecil. terasa lengkap sudah penderitaan fikri semenjak ditinggal oleh sang ayah 3 tahun lalu.
namun satu hal yang membuat fikri menjadi tegar hingga saat ini yaitu sebuah kata motivasi dari sang kiai ketika ia hendak boyong dari pesantren tempat ia menimba ilmu. ya motivasi itu tak lain berasal dari sebuah maqolah arab yang berbunyi "man jadda wajada" "siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannnya" dan ia pun sejak saat itu menjadi setegar-tegarnya menghadapi hidupnya walau dengan apapun halang rintangan yang menimpanya.
16:30 setengah jam sudah berlalu sejak ia memulai pekerjaannya kembali.belum satupun korannnya yang laku hatinya mulai bergeming dan berkata."ya,Allah ya Rabbi,hambamu ini hanyalah hamba yang lemah yang masi mengahrap rizki darimu,dan hanya inilah ikhtiar yang saat ini dapat hamba lakukan ya rabb, mudahkanlah jalan hambamu ini untuk mendapatkan rizki yang halal daripadamu ya rabb" begitu pintanya dari dalam hati dan doanya.
hujan nampak kembali akan turun dan iya.pun segera berlari pulang dengan hati yang sangat kecewa karena telah turun hujan hari ini sehingga sejak pagi hari tadi hanya segelintir korannnya yang terjual, dan itu jauh dari pendapatannya pada hari2 biasanya namun ditengah-tengah gerutunya itu ia teringat pelajaran tauhid dari ustadz afif gurunya di pesantren dulu
"al-imanu yazidu wa yanqus" "iman itu bertambah dan berkurang"
"jadi iman kita di dunia ini tidak selalu tyetap pada kadarnya anak2, jadi apabila kita semakin dekat dengan Allah maka iman kita juga akan meningkat, begitupun juga sebaliknya apabila kita lagi jauh maka iman kita juga akan berkurang, jadi perbanyaklah dzikir kepa Allah saja"
begitu lah sekilas yang diingat oleh fikri ajaran ustadz.afif semasa di pesantren dulu. dan dalam gerutunya itu terseliplah senyaum yang kembali memberinya semangat bahwa iman saja bisa berkurang kenapa tidak penghasilannya,,,semangatnya membumbung senyum di bibirya leber dan larinya semakin cepat diiringi dzikir dalam hati yang mulai di baca...."subhanallah wal hamdu lillah wala ilahaillallahuwallahuakbar".........................BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar